Rabu, 06 April 2016

LOVE n' HURTS

~PROLOG~
Kurasa inilah akhir dari segalanya. Aku telah berusaha mencobanya. Ya, setidaknya aku pernah mencoba. Mencoba melawan trauma mendalam ini. Mencoba untuk membuka diri ku ke orang lain. Tetapi, dia mengecewakan ku. Dia yang membuat diriku tak mempercayai sosok adam manapun lagi. Dia yang membuat ku jatuh kedalam lautan masa lalu itu. Dia yang awalnya memberiku sebuah harapan besar untuk membantuku keluar dari masa kelam ku itu. Kutaruh harapan yang amat besar kepadanya. Aku mempercayainya. Aku tahu dia berbeda dari makhluk adam manapun. Tapi,dia juga yang membuat harapan ku menjadi harapan kosong. Menjadi hanya angan-angan semata. Dia. Sosok pria yang membuatku benci kepada makhluk-makhluk adam. Dia. Rama.

~``~
"Perhitungan baget lo sama suami sendiri!" Teriaknya yang membuat ku ketakutan. "Hah? Gue? Lo tuh perhitungan!. Beliin beras buat gue aja susah banget! Beli rokok kopi aja BISA! Mampus aja lo sekalian!" Balas wanita itu dengan lebih lantang. Inilah yang setiap hari terjadi di rumah ibu ku. Bertengkar hanya karna hal sepele menjadi asupan kami sehari-hari. Aku mencoba untuk tidak mendengar apapun tapi percuma. Telinga ku masih sangat berfungsi untuk mendengar. Bahkan untuk sesuatu yang tidak aku inginkan. Terkadang kututupi telinga ku ini dengan bantal yang ada,tetap saja teriakan itu masih bisa masuk kedalam telingaku. Aku hanya bisa menahan batin ku yang teramat sakit. Ibu ku adalah wanita yang kuat. Terkadang aku terbingung-bingung, terbuat dari apa hati ibuku. Karna jika aku diposisinya pasti aku sudah menangis setiap hari. Aku pasti akan langsung memikirkan cara bunuh diri. Ya, bunuh diri. Agar aku terlepas dari masalah didunia ini. Tetapi, ia tidak melakukan itu. Dia masih memikirkan nasib anak-anaknya jika ia sudah tak ada didunia. Ya,dia lah ibuku. Ibu yang sangat kusayangi. Ibu yang sudah kuat mental nya dengan pertengkaran seperti ini. Aku tak pernah sekalipun melihat ia menangis karna masalah dirumah. Entah ia menangis saat aku tak ada atau memang ia tak ingin dilihat anaknya sebagai sosok yang lemah. Ibuku sudah dua kali menikah. Dan tak satupun pernikahannya yang harmonis. Aku adalah anak dari suaminya yang pertama. Sejak masih duduk dibangku TK, akulah satu-satunya yang tak memiliki sosok ayah disampingku. Setidaknya aku pernah merasakan kebahagian bersama ayah. Setiap ia pulang kerja,ia membawa aku oleh-oleh entah itu barang atau berupa makanan. Tentu saat-saat seperti itu yang tak akan kurasakan lagi sekarang. Ayahku sangat memanjakan ku. Dibanding dengan kakak ku,ia lebih menyayangiku. Tetapi dibalik kesenangan ku itu, ternyata ada cerita yang menyedihkan. Ayahku memiliki watak yang tempramen atau emosi berlebih. Dan ibuku lah yang menjadi korbannya. Ia sering dipukuli dan dicaci maki. Ibuku berusaha bertahan dan menutupi semua kejadian ini dari ku dan kedua orang tuanya. Sampai pada saat itu, saat ayahku selingkuh. Ibuku benar-benar tak bisa bertahan. Ia menggugat cerai ayahku. Saat itu aku masih berusia 4 tahun dan tak mengerti apa yang terjadi. Tahun 2005 tepat usiaku 5 tahun pengadilan pun memutuskan hak asuh anak ketangan ibuku. Mulai saat itu ibuku mulai mencari pekerjaan sendiri untuk menghidupi aku dan kakak ku yang masing-masing masih duduk dibangku TK dan SD. Yang sangat ku kecewakan dari ayahku adalah ia tak memberi nafkah kepada ku dan kakak ku. Dari tahun 2004 sampai sekarang 2016 tak pernah sedikitpun ia memberikan uang kepada ibuku untuk menghidupi aku dan kakakku. Ibu ku banting tulang sendirian. Ayahku seolah melupakan aku yang mana bagian dari masa lalunya. Dan pada tahun ia bercerai dengan ibuku, ia pun juga menikah dengan selingkuhannya. Sakit? memang. Tapi ibuku adalah orang terkuat didunia. Ia mampu menyimpan rasa sakit itu sendirian. Sampai tahun 2007 bertemu lah ibuku dengan ayah tiriku. Kisah yang tak kalah menyakitkan dari sebelumnya. Walaupun ia sudah memiliki dua anak dari suami kedua nya ini,tetap saja pertengkaran tak dapat dielakan. Suaminya selalu berkata kasar
saat mereka bertengkar. Bahkan mereka tak malu untuk menunjukan pertengkaran mereka dihadapan anak-anaknya yang masih kecil. Aku hanya takut psikologis adik-adikku terganggu. Takut adik-adikku menjadi terbiasa dengan pertengkaran. Aku sendiri juga tinggal dengan nenek ku. Ayah tiri ku tak mau sama sekali menafkahi ku dengan kakak ku. Jadilah aku tinggal dengan nenekku yang hanya seorang pensiunan dengan gaji yang sangat kecil. Ibuku beruntung masih memiliki kedua orang tua yang utuh. Jadi ibuku masih ada yang menolongnya.
Aku hanya menginap dirumah ibuku selama seminggu. Rumah ibuku berada diciledug sedangkan nenek ku berada dijakarta. Jadi aku harus menunggu hari libur untuk bertemu ibuku. Rindu yang teramat sangat harus ku tahan selama ini. Aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. Kebahagiaan yang tak terhingga jika aku bisa menginap dirumah ibuku. Hanya saja ini yang aku tak suka jika menginap. Pertengakaran antara ibuku dengan ayah tiriku. Yang membuat batinku meringis adalah ketika melihat ekspresi kedua adik tiriku yang terlihat biasa saja dengan pertengkaran ini. Seakan mereka sudah tak kaget jika orang tua mereka bertengkar. Seakan mereka menganggap ini hal biasa yang sering terjadi disetiap rumah tangga. Ya Tuhan, aku hanya ingin keluarga yang harmonis. Keluarga yang bahagia. Aku ingin sekali saja melihat keluarga ini tertawa bersama. Bahagia. Ya itu hanyalah imajinasi.

To be continued..

nb:Maaf jika banyak typo🙋 harap maklum ya! Bantu share jika kalian suka dengan ceritanya ^^ Tunggu episode selanjutnya yaaa...Luv❤

Tidak ada komentar:

Posting Komentar